Self Thought

Kesadaran Digital dari Seorang Millenial #1

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Hai, perkenalkan nama saya Graha. Sebagai awalan dari hidup kembalinya blog ini, saya akan membahas tentang Digital Well Being atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan kesejahteraan digital. Istilah ini dipopulerkan pada acara tahunan Google I/O 2018 dalam fitur terbaru Android Pie, bahkan Google membuat webpage tersendiri mengenai Kesadaran Digital Berdasarkan definisi dari Time Magazine mengenai Generasi Millenial / Gen Y merupakan generasi yang dilahirkan antara 1980-2000, saya masuk dalam kategori tersebut karena lahir pada tahun 1994. Sebagai anak Millenial disini saya akan berbagi akan pentingnya kesadaran digital dari seorang Millenial


Great technology should improve life, not distract from it.

Google, wellbeing.google.com

Personal Life

Saya lahir di kota Malang pada tahun 1994, di lahirkan dari sebuah keluarga biasa berbasis pendidikan, Papa saya adalah seorang Dosen di Universitas Negeri Malang dan juga seorang kepala sekolah di SD Laboratorium UM, Mama saya juga seorang tenaga pendidik, seorang guru SD di dekat rumah saya.

Di masa kecil saya, saya habiskan dengan permainan offline seperti anak-anak normal lainnya pada waktu itu, entah bermain kejar-kejaraan, bentengan, atau gobak sodor. Saya suka membaca, dan kebetulan banyak anak tetangga yang juga suka membaca, dan ketika kelas 3 SD pun saya bersama teman-teman di RT rumah saya bersama-sama mengumpulkan buku-buku kami dan membuat perpustakaan di salah satu halaman rumah teman saya yang cukup ramai didatangi tetangga lainnya 1 RW. Fun days, banyak orang yang datang membaca buku kami dan berdiskusi satu sama lain. 

Pertemuan pertama dengan Teknologi

Commodore64 – https://www.cnet.com/g00/news/silicon-valley-celebrates-commodore-64-at-25

Pada waktu itu saya ingat, saya masih kelas 4 SD. Papa saya membawa pulang sebuah kotak besar dengan gambar seperti layar TV, saya pikir Papa membeli sebuah TV baru, yang ternyata itu adalah sebuah komputer pribadi bernama Commodore 64. Komputer Pribadi pertama yang keluarga saya miliki, dengan tampilan CLI (Command Line Interface) dan ditemani dengan sebuah printer Dot Matrix yang saya lupa seri-nya apa.

Dari situ kecintaan saya terhadap komputer mulai terjalin, dari mencoba-coba membuat cerita pendek, atau diary yang tidak penting sehingga saya sering dimarahi papa saya karena saya tidak tahu bagaimana berharganya komputer itu pada waktu itu.

Lalu komputer kedua pun dibeli oleh Papa, sebuah komputer Pentium 1 Built-up bermerk Wearnes PC yang dilengkapi dengan Windows 95 yang sudah bertampilan GUI (Graphic User Interface). Disitu saya harus berjuang menyelesaikan PR sekolah sesegera mungkin untuk bisa bermain komputer selama 15 menit. Lalu muncul Playstation 1, dan kemudian Handphone. Kesadaran digital saya masih aman.

Handphone Pertama

iMore – https://www.imore.com/iphone-3gs

Nokia 3310 handphone SMS dan Telpon dengan permainan Snake didalamnya, pada waktu itu masih belum terlalu sering main handphone karena masih jarang yang menggunakan handphone pada waktu kelas 6 SD. Hanya sekedar untuk mengabari Papa Mama jika ada sesuatu yang penting. Fast Forward ketika jaman SMA pun ketika sudah menggunakan smartphone iPhone 3GS pun tidak terlalu suka bermain gawai karena masih lebih tertarik terhadap komputer. Kesadaran Digital masih Aman.

Kesadaran Digital #1

kesadaran digital facebook

Tahun 2009 saya mengenal Facebook dan membuat sebuah akun disana, pada awalnya kecanduan saya tidaklah separah saat ini. Facebook adalah sebuah tempat dimana saya menyampaikan keluh kesah, dan masih belum terlalu peduli dengan jejak dan topeng saya secara online.

Twitter pun muncul dan masih sekedar sebuah platform untuk eksistensi online yang tidaklah terlalu penting dan hanya sekedar wadah untuk bertegur sapa dan mencari sebuah Inspirasi. Fenomena RT dan mengikuti keluh kesah orang lain, curhat seputar dunia percintaan, dll. Dari Twitter inilah saya mulai ”merasa” mengenal orang lain tanpa harus bertemu setiap hari dengan yang bersangkutan di dunia nyata. Sebuah pemikiran yang cukup naif.

Kesadaran Digital #2

kesadaran digital instagram

Pada awalnya, Instagram hanyalah sebuah aplikasi foto dengan filter vintage-nya. Dan fitur media sosialnya hanyalah seperti Galeri foto online. Banyak orang yang menggunakannya hanya sekedar ingin berbagi apa yang dilihatnya, murni dan un-filtered. Hingga akhirnya pembaharuan demi pembaharuan dilakukan, Instagram semakin menjadi topeng online banyak orang. 

Agar artikel tentang Kesadaran Digital dari Seorang Millenial ini tidak terlalu panjang, maka akan saya buat menjadi beberapa seri yang pada intinya sebenarnya adalah keluh kesah saya dari sudut pandang seorang milenial tentang betapa pentingnya Kesadaran Digital. 

Bagaimana dengan Kesadaran Digital-mu?

Tidak peduli dari generasi manapun kamu, entah X, Y, atau bahkan generasi Z. Sudahkah kamu sadar akan kesadaran digital-mu? Apa salah satu tembok terbesar dari dunia digitalmu? manakah media sosial yang menurutmu paling Toxic dalam kehidupanmu?

Artikel Lanjutan bisa di Nikmati di Generasi Instagram dan sebuah eksistensi daring

9
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Tags:

2 comments

  1. […] Generasi Instagram, bukanlah sebuah kata yang mengandung konotasi negatif, melainkan sebuah gambaran saya terhadap generasi yang aktif dalam platform media sosial bernama Instagram. Setelah kita move-on dari era meledaknya dunia per-televisian, Internet chat, dan YouTube, kini kita berada di era Instagram, setidaknya di Indonesia saat ini. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel saya sebelumnya Kesadaran Digital dari Seorang Millenial #1 […]

  2. […] kita rehat sejenak dari pembicaraan mengenai Generasi Instagram dan Kesadaran Digital, kali ini saya lagi ingin membahas fenomena Network Effect, sebuah fenomena yang menurut saya […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *