Digital Marketing

Network Effect, Memahami Harga Apple yang Mahal

network-effect
Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Mari kita rehat sejenak dari pembicaraan mengenai Generasi Instagram dan Kesadaran Digital, kali ini saya lagi ingin membahas fenomena Network Effect, sebuah fenomena yang menurut saya cukup unik, dan ternyata berkorelasi dengan harga Apple yang Mahal. Disini saya tidak bermaksud untuk menggurui anda, tapi mencoba menyampaikan opini saya dan berdiskusi tentang pemahaman saya.

Network Effect

the-network-effect

Network Effect (sila klik link untuk rujukan terhadap Wikipedia), mudahnya, sebuah jaringan dimana apabila pengguna-nya bertambah, maka nilai barang atau jasa tersebut juga ikut bertambah. Apa yang membuat-nya unik? selama ini kita sering melihat konsep kelangkaan, dimana semakin langka sebuah barang atau jasa, maka semakin tinggi nilainya.

Dalam sebuah perumpamaan, apabila ada satu barang yang diperebutkan oleh dua orang, maka akan ada satu pemenang dan satu pecundang, apalagi apabila ada lebih dari dua orang. Sedangkan Network Effect, memutar balikkan konsep tersebut, dibandingkan menciptakan kompetisi untuk mendapatkan barang tersebut, akses terhadap barang tersebut dalam hal mendapatkannya, semakin mudah seiring dengan jumlah individual yang berada dalam jaringan tersebut.

Contoh Network Effect

Gojek – gojek.com

Gojek adalah sebuah contoh sempurna dalam konsep Network Effect. Model bisnis Gojek adalah untuk menyatukan penumpang (konsumen) dengan pengemudi Gojek (driver) secepat mungkin dan se-murah mungkin. Untuk mencapai hal tersebut, Gojek harus memiliki cakupan wilayah yang luas dengan jumlah driver Gojek yang banyak.

Hal ini menarik minat pelanggan untuk menggunakan Gojek, dan juga menarik minat orang untuk menjadi driver Gojek. Sehingga penjemputan dan pengantaran semakin cepat dan murah, konsumen mendapatkan harga yang kompetitif, dan driver memiliki banyak konsumen untuk menyelesaikan perjalanan sebanyak mungkin agar mendapat bonus.

Lalu Bagaimana dengan Apple?

Apple – apple.com

Untuk dapat memahami konsep Network Effect pada Apple, kita harus memahami bagaimana Apple dapat meraih kesuksesannya. Yang apabila menurut pemahaman saya, Apple bukanlah perusahan teknologi, melainkan sebuah merk mewah layaknya LV, Versace, dll. Dimana bisa kita pahami melalui pasar segmentasi Apple yang memang fokus ke arah merk mewah.

Toko Ritel

Apple Store – Cult of Mac

Ketika banyak brand seperti Apple banyak yang tidak membuka toko ritel. Steve Jobs fokus pada pengembangan desain dan konstruksi toko ritel Apple. Walaupun toko ritel resmi Apple tidak ada di Indonesia, tetapi pengalaman berada di toko Apple hampir bisa kita rasakan di beberapa toko reseller Apple besar disini yang meniru desain Apple. 

Dengan penerangan yang terang, dipenuhi jendela kaca bening, karyawan toko yang menggunakan seragam, produk-produk yang tertata rapi, serta karyawan toko yang siap untuk melayani anda. Sebuah alur yang rapi dan seakan-akan membuat anda merasa lebih baik apabila berada di dalam toko tersebut (ini berdasarkan pengalaman saya). Dan, apa puncak dari pengalaman yang anda rasakan di dalam toko tersebut?

Sebuah smartphone terbaik di pasaran dengan harga 24 juta rupiah yang mengingatkan kita, mengapa kita mampu membelinya, dan mengapa kita tidak mampu membelinya

Saya Suka Kemewahan

Fredrich Yunadi – Tempo.co

Apple tidak hanya diuntungkan dengan “eksklusivitas” Network Effect-nya, tetapi sebagai salah satu merk yang mampu menikmati margin profit sebagai merk mewah. Ada dua yang Apple dapatkan dari ini. Pertama, Apple menikmati sebuah keuntungan menjadi merk mewah. Padah kuartal ke-empat tahun 2017, menurut data dari Investors.com, penjualan smartphone secara global, iPhone meraup market share sebesar 18%  dan mendapatkan keuntungan lebih dari 87% keuntungan pasar global smartphone. Kedua, Apple juga dapat meraih keuntungan sebagai hasil dari pengguna yang ber-operasi di bawah ekosistem Apple seperti Apple music, iCloud, dll.

Apple vs Gojek

apple-vs-gojek
Apple vs Gojek

Lalu ketika Apple dan Gojek (Dalam contoh ini saya menggunakan Gojek, karena lebih familiar) sama-sama berkembang dari Network Effect, apa yang membedakan kedua-nya selain Apple menjual sebuah brand dan barang, sedangkan Gojek menjual jasa?

Network Effect dari sebuah merk mewah, brand mereka akan semakin meningkat ketika semakin banyak orang kaya yang menggunakan produk mereka. Dimana Gojek menjadi lebih bernilai ketika seseorang individual masuk kedalam jaringan-nya (Driver maupun Konsumen). Simpelnya, Apple hanyalah butuh konsumen tertentu untuk meningkatkan value-nya. Konsumen yang tidak harus pusing berfikir untuk membeli smartphone iPhone XS Max 256GB dengan harga 23 Juta Rupiah, atau yang memikirkan cost-benefit menambah 3 Juta Rupiah lebih untuk tambahan penyimpanan data 192 GB.

Is it worth the price?

Uang – Okezone Economy

Dulu sekali, saya juga konsumen Apple. Waktu itu saya menggunakan iPhone 6, waktu itu, iPhone 6 adalah smartphone ”termahal” di kelas-nya. Dengan harga tersebut, ekspektasi saya tinggi terhadap iPhone 6, saya menggunakannya selama kurang lebih dua tahun dan itu adalah pengalaman UX yang luar biasa. Tak hanya itu, smartphone semahal itu pun juga sebuah pengingat bagi yang memilikinya, kenapa pemiliknya mampu membelinya, dan kenapa mereka yang tidak, tidak bisa memilikinya. Seakan-akan Apple melalui harga yang mereka pasang mengatakan “iPhone itu bagus. Tapi iPhone itu bukan untuk-mu” Ini adalah sebuah sifat mendalam dari sebuah merk mewah. Eksklusivitas yang bertindak sebagai pengingat orang yang memilikinya. Dan inilah yang membuat iPhone X sebagai lompatan margin keuntungan Apple yang meroket dan membawa-nya memiliki perusahaan pertama yang memiliki valuasi 1 Triliun USD.


smartphone semahal itu pun juga sebuah pengingat bagi yang memilikinya, kenapa pemiliknya mampu membelinya, dan kenapa mereka yang tidak, tidak bisa memilikinya. Seakan-akan Apple melalui harga yang mereka pasang mengatakan “iPhone itu bagus. Tapi iPhone itu bukan untuk-mu”

“Aku sebenar-nya mampu untuk Beli kok”

Tenang, tentu pasti ada yang sebenarnya mampu untuk membeli-nya, tapi memilih untuk membeli produk lain. Entah itu karena secara performa kurang worth it, atau karena ingin hidup sederhana, atau tidak ingin termakan gengsi. Tetapi yang menjadi bahasan disini adalah Network Effect dari Apple, dan keputusan anda seperti diatas tidak mempengaruhi brand Apple sama sekali, sama seperti merk mewah lainnya.

The Power of Apple

Apple mampu merilis sebuah fitur yang tidak akan dimanfaatkan secara penuh selama beberapa tahun lamanya, atau memaksa sebuah fitur untuk mengubah sebuah paradigma. 

Jack Headphone 35mm

AirPods – Apple Insider

Jack Headphone 35mm, adalah salah satu koneksi universal yang diadopsi konsumen maupun produser, dan Apple menghilangkannya pada iPhone 7 keatas, sebuah keputusan yang berani. Mayoritas konsumen, jelas protes dan menyuarakan keluhannya, ke-tidak praktisannya, dan mahal. 

Lalu apa solusi yang diberikan oleh Apple? 

AirPods

Earphone Bluetooth milik Apple, namun, AirPods terbukti laku keras di pasaran, bahkan hingga Apple pun kewalahan. Siapa yang membeli AirPods? Apakah mereka yang diam saja ketika Apple menghilangkan jack 35mm? tidak, tapi oleh mereka yang protes dan bersuara keras ketika Apple menghilangkan jack 35mm. 

Hal ini pun mengubah paradigma mendengarkan musik atau telepon lewat earphone, berkat Apple pun, kini mendengarkan musik lewat earphone ber-kabel perlahan mulai tergantikan dengan bluetooth atau nirkabel. Itu adalah sebuah contoh nyata kekuatan dari sebuah brand Apple.

Mereka melakukan ini karena tanpa sadar seolah-olah mereka sedang diarahkan ke arah yang lebih baik oleh Apple. Sebuah harga yang dibayarkan di akhir perjalanan tersebut tidaklah penting, karena terlihat tidak signifikan dibandingkan perubahan paradigma yang ada. Harga, bukanlah sebuah halangan terhadap sebuah penjualan Apple, tapi sebuah pengalaman.

Industry Leader

Apple Launch – New York Times

Keputusan Apple untuk menghilangkan fitur penting yang tidak hanya pada produk mereka, melainkan kepada industri secara keseluruhan, kurang lebih menunjukan kesuksesan Apple sebagai sebuah perusahaan. Ketika anda adalah seorang pemimpin industri, anda memimpin, dan indikator pemimpin yang hebat adalah, mampu membuat keputusan tidak populer menjadi populer. 

Mengingat semua ini, sangatlah mungkin, apabila Apple nanti (dan yang saya rasakan terjadi disini) kan menjadi sebuah kelas sosial yang baru. Tentu saja sulit membayangkan apabila Apple memang sengaja membuat produk dengan tujuan seperti ini. 

Apple, sebagai sebuah perusahaan satu-satunya yang mendapatkan Network Effect dari sebuah brand mewah dan perusahaan teknologi secara umum. Brand mereka ada dimana-mana, tapi sulit diakses, dan semakin hari semakin aspiratif. Ini adalah kombinasi margin keuntungan yang tinggi dan skala yang besar, lalu BOOM valuasi 1 Triliun USD. Kombinasi eksklusivitas, Network Effect, dan skala membuat Apple men-dominasi di pasar global. Walaupun kelebihan ini pada akhirnya nanti bisa menjadi sebuah kelemahan, sulit rasanya membayangkan bagaimana sebuah raksasa Apple akan runtuh.

Opini-mu?

Dari opini saya diatas, mana yang membuatmu tidak setuju? Kenapa? dan bagaimana menurutmu? 

By the way, tim manakah kamu? Apple? Samsung? atau Xiaomi, OnePlus, Pocophone, dll.?

12
Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *