Belajar Marketing Media Sosial dari Pasangan, Gratis !

Sudah waktunya untuk memperbaiki hubungan anda.

Last updated:

Belajar marketing media sosial dari pasangan? Hubungannya dimana? Hubungannya ada di hubungan anda dengan pasangan itu sendiri.

Masa?

Pernahkah anda ada di situasi dimana anda berdua dengan pasangan. Duduk berseberangan satu sama lain, dan mendengarkan pasangan berbicara tentang diri mereka sendiri, tanpa ada pembicaraan dua arah?

Itu hanyalah sekedar pertunjukan ego, bukan kencan.

Anda pun pulang dengan sedikit menyesal kenapa bisa ada disana. Berbicara berjam-jam tanpa adanya esensi, atau ketertarikan untuk saling terkoneksi secara intelektual maupun emosional. Anda cuman ada disana sebagai mic untuk rekaman unek-unek yang pasangan anda alami.

Pasangan anda harusnya sadar, begitu juga sebuah brand.

Semenjak COVID-19 dan seiring waktu 2020 hingga 2021, brand semakin fokus untuk membuat marketing media sosial dan platform digital sebagai bagian utama dalam kampanye marketing mereka, tetapi tidak kesemuanya mempraktekan teknik terbaik. Banyak yang saya jumpai hanya sekedar mengurangi ‘jatah’ iklan tv atau iklan billboard.

Masalahnya…

Platform media sosial bukanlah sekedar billboard yang hanya berkomunikasi satu arah kepada mereka yang melihat. Platform media sosial lebih ideal digunakan sebagai platform untuk berinteraksi dua arah, dimana kita bisa berbicara tentang hal lain selain diri kita sendiri.

Belajar Marketing Media Sosial itu Perlu

Platform media sosial di era dimana banyak orang menghabiskan banyak waktu di dunia maya telah menjadi ujung tombak dalam marketing. Tempat pertama dimana audience potensial maupun pelanggan anda melihat berita tentang anda, penawaran terbaru, atau bahkan tentang peringatan #HariValentine.

Unek-unek tentang permasalahan konsumen atau pujian konsumen juga.

Media sosial menjadi tempat pertama yang digunakan untuk mendapat perhatian anda. Mention @ sebuah brand yang membuat seseorang frustasi maupun senang adalah langkah pertama yang dilakukan banyak orang.

Entah itu menunggu anda untuk memperbaiki masalahnya, atau ingin mendapatkan respon positif kembali dari anda.

Banyak kasus sebuah brand tidak memperdulikan ini atau bahkan berpura-pura tidak tahu, memberikan kesempatan bagi brand lain untuk memperbaiki masalah mereka atau membuat konsumen anda menjadi seperti tidak diperhatikan.

Lalu, Apa yang Saya Pelajari Dari Pasangan?

1. Belajar Marketing Media Sosial dengan Menjadi Pendengar yang Baik

Belajar Marketing Media Sosial

Untuk menjadi brand dan pasangan yang baik, anda perlu menjadi pendengar yang baik.

Ketika anda menjadi pendengar yang baik, mendengarkan pelanggan / pasangan anda, anda akan mulai memahami mereka, anda bisa memberikan input yang baik seperti User Experience yang baik, customer care, dan konten yang lebih baik.

Konten anda tidak hanya sekedar bagus, tapi beresonansi. Ini akan membuat konten anda terasa benar-benar untuk audience anda.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Salah satu cara untuk membuat seseorang tahu bahwa anda tertarik dengan mereka dan pedul tentang mereka?

Ajukan pertanyaan.

Tunjukan bahwa anda ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Sejujurnya saya cukup kaget masih banyak brand yang masih terus mengeluarkan konten-konten yang sebenarnya punya performa rendah dan mereka tidak memahami ini.

Kasus seperti ini bisa terjadi karena sebuah brand tidak mengambil waktu sejenak untuk lebih memahami apa yang diinginkan oleh audience mereka. Jadi brand tersebut memberikan mereka sesuatu yang tidak mereka butuhkan atau inginkan.

Ketika belajar marketing media sosial, anda harus mempertanyakan hal-hal seperti ini ketika melihat sebuah konten yang membuat anda berhenti.

  • Kenapa anda berhenti untuk melihat konten ini?
  • Kenapa konten ini membuat anda berhenti sejenak?

Membuat konten itu mudah, tetapi membuat konten yang membuat orang-orang berhenti untuk melihat konten tersebut sulit.

Belajar marketing media sosial sama seperti ketika kita bersama pasangan. Anda tahu jenis movie yang pasangan anda sukai, makanan favorit, parfum-nya, minuman favorit, atau lagu favorit.

Sebagai brand, tidakkah anda ingin tahu apa yang penting bagi audience anda? bagaimana tingkah-laku online mereka? blog yang mereka baca? platform media sosial yang paling sering mereka gunakan atau platform media sosial mana yang mereka gunakan untuk meminta bantuan?

Ini sangatlah penting, dan mereka akan sadar.

Audience anda akan sadar jika anda peduli.

Jika anda mendengarkan mereka, dan membantu, mereka juga akan sadar. Semakin mudah juga anda membuat konten yang sesuai dengan yang saya tuliskan di 4 Kunci Algoritma Instagram 2020.

2. Belajar Marketing Media Sosial dengan Berhenti meng-Ghosting Mereka

Belajar Marketing Media Sosial 2

Anda bertemu untuk berkencan dengan pasangan anda. Semuanya berjalan dengan baik, anda pikir si dia pasti menikmati waktu dengan anda.

Lalu, besoknya.

Tiba-tiba dia hilang, tidak ada chat ataupun telpon. Ini adalah fenomena Ghosting yang marak terjadi di kalangan anak muda. Namun, ini tidak hanya terjadi di kalangan anak muda, hal ini kadang terjadi pada orang dewasa brand.

Pernahkah anda berinteraksi dengan sebuah brand, dan segalanya berjalan dengan sangat baik. Sampai akhirnya ketika anda membeli dan interaksi tersebut berakhir?

Tidak ada support, tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan atau masalah anda.

Bagaimana perasaan anda setelah mengalami hal tersebut? Seberapa banyak value yang anda berikan untuk orang atau brand tersebut? Tidak ada?

Iya, tidak ada.

Sebuah brand sudah seharusnya untuk peduli terhadap konsumen mereka, meskipun mereka sudah membeli produk brand tersebut. Hubungan tersebut tidak hanya memberikan potensi pembelian berulang dari mereka saja, tetapi dari orang lain yang mereka rekomendasikan.

Meng-Ghosting mereka justru memberikan efek sebaliknya. Bisa dikatakan anda men-sabotase brand anda sendiri dan menunjukan bahwa anda tidak perduli dengan konsumen anda.

3. Dapatkan Kepercayaan Mereka, dan itu Akan Membuat Anda Menjadi Lebih Baik

Belajar Marketing Media Sosial 3

Tidak peduli seberapa maju sebuah teknologi, marketing MLM alias Mulut Lewat Mulut akan selalu menang. Yang membedakan hanyalah, marketing MLM (Mulut Lewat Mulut) sekarang menjangkau audience yang lebih luas berkat media sosial.

Konsumen yang suka dengan brand anda akan ikut menyuarakan brand anda. Sebuah iklan gratis yang 100% efektif dan akan membantu anda untuk berkembamg. Mereka merasa menjadi bagian dari kesuksesan anda.

Tapi, hal ini juga bisa berbalik.

Konsumen yang merasa diacuhkan, atau diperlakukan dengan tidak baik juga akan ikut menyuarakan rasa frustasi mereka. Kebencian menyebar lebih cepat, ini membuat brand mention anda akan penuh dengan sentimen negatif.

Contoh Kampanye Marketing Media Sosial Briliant 2020

Dove – #PassTheCrown

Dove beberapa tahun terakhir ini selalu mengeluarkan campaign yang menurut saya jenius. Campaign yang mereka buat pun sejalan dengan visi misi Dove sendiri yang dibangun berdasarkan nilai-nilai inklusivitas, kecantikan alami, dan body image yang positif.

Campaign Dove 2020 kemarin ini bernama #PassTheCrown (yang selengkapnya bisa anda lihat di Dove – The Crown Act). Dove percaya bahwa semua orang harusnya bangga dengan rambut asli mereka. Bekerja sama dengan National Urban League, Color of Change, dan Western Center campagin ini ditujukan untuk melawan diskriminasi rambut di Amerika Serikat.

Dove meminta audience mereka untuk bercerita tentang pengalaman mereka, dan dengan kekuatan brand Dove, mereka menyuarakan cerita pengalaman audience mereka dan meminta semua orang untuk mengambil langkah untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif.

Kesimpulan

Salah satu kunci dalam marketing adalah hubungan. Peduli terhadap masalah yang ingin anda pecahkan dan audience yang memiliki masalah tersebut itu penting.

Belajar marketing media sosial itu memang sulit, sekompleks menganalisa pasangan. Tapi, seiring berjalannya waktu, ini akan mengalir secara alamiah tanpa anda harus berfikir keras apabila dibiasakan.

Kuncinya satu, perlakukan manusia layaknya manusia. Mudahnya, anda bisa bayangkan anda sendiri sebagai audience brand anda. Seperti apakah anda ingin diperlakukan.

Pernahkah anda diperlakukan tidak menyenangkan oleh sebuah brand? Apa yang kemudian anda lakukan? Yuk share di kotak komentar dibawah.

Artikel Lainnya
Kesadaran Digital dari Seorang Millenial #1