macbook-pro

Macbook Pro Laptopku Satu-Satunya

Macbook Pro 13″ Late 2011. Itu laptop yang aku gunakan sejak tahun 2012 awal. Ya sebuah laptop dari brand Apple yang aku bahas tentang daya tarik berdasarkan Network Effects Apple. Tak terasa sudah hampir 8 tahun laptop yang setia menemaniku ini, masih setia menemani. 

Mungkin jika kamu mengenalku secara offline atau benar-benar mengenalku. Mungkin kamu akan beranggapan bahwa aku orang yang sangat peka terhadap teknologi, Graha seseorang yang mengutamakan form follows function. Sangat peka terhadap spesifikasi dan perhitungan terhadap price/performance. 

Tapi kenapa kok hingga saat ini masih setia menggunakan laptop Apple? yang notabene mengutamakan form over function, yang terkenal dengan harga yang mahal dan tak sepada dengan spesifikasi yang didapatkan? 

Spesifikasi Macbook Pro 13″ Late 2011

  • Intel Core i5 2.4 GHz (Sandy Bridge Gen.)
  • RAM 1333 MHz 4GB (Yang akhirnya tahun 2015 upgrade menjadi 8GB)
  • HDD 500GB
  • Intel HD Graphics 3000 384MB
  • 1 Ethernet + 1 Firewire + 1 Thunderbolt + 2 USB 2.0 + headphone Jack + DVD-RW + SDXC Card Reader + Bluetooth 2.1 + Mini Display Port
  • 13″ Display 1280 x 800
  • Out of the Box OSX Mountain Lion

Sejarah Awal Membeli si ‘Whity’

‘Whity’ ya itu nama Macbook Pro aku. Aku punya semacam kebiasaan untuk menamai barang-barang yang aku miliki (mungkin yg mengenalku dekat tahu tentang ini). 

Pada waktu itu aku masih kelas 2 SMA di kota Malang. Semenjak aktif nge-blog sejak SMP dan mengikuti komunitas Blogger Ngalam. Pengetahuan aku tentang teknologi secara umum pun semakin berkembang, aku pun mulai mengikuti perkembangan gadget pada waktu itu. Pada waktu itu aku belum memiliki sebuah laptop, hanya sebuah PC Windows dengan Prosesor Core 2 Duo dan RAM 4GB, karena pada waktu itu harga Laptop masih terhitung mahal dan bukanlah hal yang umum dimiliki anak sekolah pada waktu itu.

Mac OS X vs Windows

Macbook Pro Late 2011
Macbook Pro Late 2011

Waktu itu adalah era dimana Macbook hanyalah sebuah laptop Apple, era dimana Apple bukanlah sebuah penentu strata sosial. Jadi variabel tersebut tidak masuk dalam kriteria pembelian laptopku pertama. Waktu itu pun aku sudah familiar dengan beberapa OS, di PC-ku aku menggunakan 3 OS waktu itu, Windows XP, Linux Mint, dan Ubuntu. Hanya satu yang belum pernah aku coba, Mac OS X. 

Pada waktu itu, aku tidak menemui seorang pun yang aku kenal menggunakan Mac OS X, apalagi pinjam, hingga akhirnya aku mulai sering membaca-baca website yang membahas mac os x, pada waktu itu Cult of Mac adalah salah satu website paling kredibel dan aktif membahas-nya. 

Long story short, ada beberapa poin yang membuat-ku memutuskan untuk ingin memiliki sebuah laptop Apple, dan aku menginginkan seri Macbook Pro, karena pada waktu itu Macbook Pro adalah seri laptop Apple tertinggi, diatas Macbook Air karena ini adalah laptop pertamaku dan aku mengingkan laptop ini future-proof dan setidaknya diatas performa PC-ku pada waktu itu.

  1. Mac OSX – karena aku ingin mencoba merasakan OS lain.
  2. Arsitektur BSD – Lebih aman terhadap Virus
  3. Support terhadap game rendah – Sehingga saya lebih termotivasi untuk menggunakan laptop ini untuk produktivitas.
  4. UX Experience – dari beberapa blog yang membahas tentang Owning Experience oleh mereka yang menggunakan Mac OSX, OS ini sangatlah nyaman dan mudah digunakan
  5. Logo Apple yang menyala – Ya ini mungkin terdengar sangat klise tapi ini salah satu alasan aku.

Bagaimana bisa aku membeli laptop-nya?

Foto si Whitty waktu masih Baru

Ya itu adalah one-million dollar question pada waktu itu. Aku lahir di sebuah keluarga yang berkecukupan, sekedar cukup, dan yang jelas tidak memiliki uang yang ‘nganggur’ untuk dibelikan laptop seharga Macbook Pro ini. Waktu itu aku melihat Macbook Pro ini di ibox dengan harga sekitar 17 Jutaan, harga dimana pada waktu itu cukup untuk membeli sebuah motor Satria FU.

Jelas sebagai anak sekolah yang tidak memiliki pekerjaan tetap, pada awalnya aku mencoba meminta kepada orang tua. Pada waktu itu itu, Papa-ku memperbolehkan TAPI papa-ku hanya bisa berkontribusi 4 Jutaan pada waktu itu.

Memerah ‘ternak’

Waktu itu kebetulan aku lagi getol untuk belajar tentang SEO. Nah, salah satu metode yang aku pakai waktu itu adalah Networked Blog, jadi aku punya beberapa blog yang mempunyai Page Rank yang lumayan (Pada waktu itu PageRank adalah salah satu value monetizing yg standar digunakan) dan masih bersih belum aku monetize.

Akhir-nya untuk membeli si Macbook Pro ini, aku-pun mulai melakukan monetisasi terhadap peternakan blog aku. Entah itu melalui Adsense, jualan Backlink, hingga Sponsored Post backlink pun aku lakukan. Dan akhirnya setelah ‘memerah peternakanku’ selama 4 Bulan + 1 Bulan menunggu balance PayPal dan check datang, si Whitty Macbook Pro ini pun akhir-nya terbeli.

Macbook Pro Late 2011 di Tahun 2018

Foto Whitty waktu Unboxing

8 Tahun ini menemani, dengan kondisi unibody-nya yang bocel dimana-mana, keyboard yang mulai pudar warna-nya, ‘sedikit’ lemot, baterai yang awalnya bisa 7 jam drop menjadi 3-4 jam. Tapi aku merasa puas dengan laptop Macbook Pro ini. 

Ketika banyak teman-teman yang sama-sama memiliki laptop yang membeli-nya berbarengena dengan laptop aku atau bahkan setelah aku membeli laptop, ternyata banyak yang rusak, atau sudah tidak layak untuk dipakai. Si Whitty ini masih bisa konsisten menemani waktu-ku untuk menulis, meng-edit foto di Lightroom, membuat sebuah poster di Photoshop, revisi singkat di Sketchup maupun AutoCAD. 

Baterai yang selama 8 tahun ini aktif dan drop tidak terlalu parah walaupun penggunaan laptop yang ugal-ugalan, tidak pernah mati hanya standby, tertancap charger berhari-hari dikasur, menonton YouTube hingga ketiduran, hingga menulis artikel ini sembari membuat belasan tab di Google Chrome pun masih berjalan sempurna.

Hal ini lah yang membuatku belum ingin untuk membeli laptop baru. Layar-nya pun dan backlight Keyboard masih berfungsi sempurna. Semua port dan bahkan DVD RW dan slot SDXC card-nya pun masih bekerja. Kecuali Magsafe Chargerku yang kulit pembungkus kabelnya sudah mulai rusak namun masih berfungsi secara normal. 

Sedih rasanya membayangkan pada akhirnya aku harus berpisah dengan laptop pertama ku yang kubeli dengan uang jerih payahku. Tapi, mungkin, mungkin saja suatu saat nanti, Macbook Pro yang akan kupilih untuk menggantikannya. 

Bagaimana dengan Kamu?

Laptop apa yang pertama kamu beli? dan apa masih memakainya hingga saat ini? Punya produk laptop Apple juga? Bagaimana kesan kamu selama menggunakannya? apa masih dipakai hingga sekarang?

Artikel Lainnya
featured-digital-marketing
Digital Marketing Itu Apa? Apa yang Harus Kamu Ketahui?